Sabtu, 22 Oktober 2011

HAL – HAL
 “keimanan” dan “keraguan”  merupakan suatu hal yang saling melengkapi, dan tidak perlu dipertentangkan, persoalannya adalah bagaimana kita mampu memanfaatkan keduanya menjadi suatu alat yang membawa kita untuk bisa meningkatkan kwalitas diri.
Dalam mempercayai suatu kepercayaan seringkali kita harus berhadapan dengan sebuah “titik-akhir” dimana kita tidak bisa lagi menanyakan lebih lanjut keabsahan kepercayaan itu yang akhirnya kita harus memilih antara percaya atau tidak percaya.
Setengah percaya adalah sebuah kesemuan belaka, karena pada akhirnya akan menjadikan seseorang bisa bersifat dogmatis, fanatik atau sebaliknya menjadi ragu dan sinis, plin-plan atau pun bersikap tidak mau tahu.
Hakekat dari suatu kepercayaan yang tidak diketahui hanya akan menjadi slogan dan alat yang berurusan dengan duniawi saja dan berakhir pada menurunnya nilai dari kepercayaan itu karena ketidaktahuan akan ketidaktahuan.
Mengapa kita  percaya terhadap sesuatu kepercayaan  tapi kepercayaan  tersebut tidak  kita ketahui?, sebaliknya, dan kita tidak percaya terhadap suatu kepercayaan karena kepercayaan tersebut kita percayai.
Untuk dapat memahami dan mempercayai suatu kepercayaan kita harus menyaksikan dan memahami kepercayaan itu, dengan kata lain kita harus mengetahui mana hakekat dan mana yang hanya sebagai kemasan.
Untuk menyaksikan kita perlu bimbingan, kalau kepercayaan itu tidak bisa disaksikan yang timbul adalah, kebingungan dan keraguan,
Seiring dengan kebersamaan kita, saya menghaturkan permintaan maaf sedalam-dalamnya kalau ada HAL-HAL dari saya yang tidak berkenan, tidak ada maksud untuk mengurui tapi marilah kita berbagi yang saya harapkan semoga kebersaman ini bisa membawa manfaat untuk kita bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar